30.6.13

Sakti Marendra

*This is a super old writing, but alas, this is all I have for now


Sakti Marendra
Because why there has to be a why?


The first time I hear about this guy was when my friend showed me his facebook page. The first time I met him, was a few months after that, and it was at MGMT concert. And why I remember all this? Well, because I have good memories, what is it to you? 
The idea of interviewing him started with a major curiosity. It started when a guy I know, and a girl he knows, both connected with the man that is Sakti Marendra. The thing is, I am a very very kepo girl, so I relentlessly and shamelessly ask this young-ish director about what’s what in that situation.  From there I found out, how talented this guy actually is, and how nice he is, and how good he is in handling him self in weird conversation.
We also found out what a rising star he is, and started calling him Rising Star Sakti Marendra behind his back. Eventhough we often say it in a mocking tone, let me assure you, this guy truly is amazing. Just go and check his website on  www.saktimarendra.com and you’d agree with me. 
 Therefor, my loves, I present to you, one of the weirdest, the most random, yet the most fun conversation I had for the last few months. Well, yeah, it’s basically an interview, but it feels more like a convo for me.

RSSM : Okay, temanya apa nih?
MeMeMe : Err.. Temanya.. Surprise.
RSSM : Eh, apaan ,sok sok surprise. Oh, ini temanya kepo kepo-an gitu ya? Loe kan kepo anaknya.

MeMeMe : Eh, seriusan lah dulu kita. Kamu exactly profesinya apa sih?
RSSM : Sutradara, motion graphic artist juga.
MeMeMe : Okay, gimana sih ceritanya kamu sampe akhirnya bisa jadi sutradara?
RSSM : Awal mulanya gue sering kolaborasi sama beberapa sutradara untuk ngebikin video clip, gue sebagai motion graphic artist nya. Atau sebagai motion director lah. 
MeMeMe : Emang kuliahnya dulu belajar motion graphic?
RSSM : Gue dulu kuliah cuma 3 bulan. Gue gak suka kuliah soalnya. Gue dulu niatnya pengen kuliah 7 tahun di Bandung. Tapi lama-lama gue bosen juga sama motion graphic. Bukan bosan juga mungkin ya, cuma kayak ada titik jenuhnya. Trus gue nyoba ke media lain, lebih ke directing. Yah dari situ sih awalnya. Sekarang juga gue masih dalam proses belajar.

MeMeMe : Prosesnya itu semua berjalannya smooth? Nggak ada apaapa kejadian gitu?
RSSM : Yah, berjalan gitu aja sih. Dan sampe sekarang juga gue masih motion graphic artist, dan di setiap video yang gue bikin setidaknya gue masukin sedikit visual effect atau compositing. (For those of you who don’t know what compositing is, google it. Like I did).

MeMeMe : Directing and motion graphic, mana yang lebih menarik?
RSSM : Sebetulnya dua duanya punya porsi yang berbeda, dan punya keseruan yang berbeda sih.

MeMeMe : Eh tapi ya, katanya, kalau sekarang sekarang ini, yang lagi dicari banget itu justru motion graphic artist loh.
RSSM : Oh, iya ya? Gue juga mungkin directing ini lebih kayak ke fase kali ya. Lebih kayak karena gue kepengen aja. 
MeMeMe : Oh ya? Emang udah berapa lama directing? 
RSSM : Setahun lebih lah.
MeMeMe : Oh yaa? Udah bikin berapa video?
RSSM : Oh, udah banyak. (Eits, asik kali loh kaka iniiii….)

MeMeMe: Project paling seru yang pernah kamu kerjain yang mana?
RSSM : Yah tiap project itu masing-masing punya keseruan yang berbeda. Tapi kalo paling menarik mungkin project video clip gue yang pertama. Itu pertama kalinya gue menggunakan motion graphic.

Dan lantas we spent a few minutes watching the said video and from what I can gather, flirting at the waiter on the cafe. We really are a weird bunch, I guess. 

RSSM : Eh, lalu lalu lalu? 
I guess Sakti was growing impatient, or was baffled by the situation. Either one, he was desperate to get us on track for the interview.

MeMeMe : Laluu… hmmm.. Future wise ya sak, kamu rasa kamu bakal bertahan jadi director apa bakal loncat ke profesi lain?
RSSM : Well, sebenernya saat ini gue lagi mencoba semuanya. Semua media aja, selama itu masih berhubungan sama visual. Karena gue merasa future gue ya visual itu. Dan mungkin suatu saat gue bisa milih, mana yang kira-kira paling bagus buat gue. 

See? Multitalenta kali  kan dia? He even modeled once or twice.  Segan kali gak sih?? Sumpah sak, you’re the man. 
Eh, okay, we do need to go on.


RSSM: Bukan multi talenta ini namanya, cuma punya kesempatan aja. Loe juga bisa kali, cuma belom ada kesempatan aja buat ngebuktiin diri.
MeMeMe : Eh, sak, menurut kamu, di Jakarta ini, siapa sih artist to watch? Siapa sih artists yang kamu rasa karyanya keren banget di Jakarta ini? 
RSSM : Hmm.. Ada sih beberapa temen deket gue. Ada temen gue yang kebetulan motion graphic artists juga. Kayak Aras Darmawan sama Isha Hening. 
MeMeMe : Si Aras ini cakep? Ada pacarnya?
RSSM : Eh, niat kali nanyanya. Dia lagi di New York sih sekarang. Lagi kerja. Mukanya sih berkharisma.
MeMeMe: Eh, sebenenrnya banyak gak sih motion graphic artist di Jakarta ini?
RSSM: Banyak sih banyak. Cuma mereka kebanyakan nggak mau ngambil project yang bikin namanya terdengar lah istilahnya. Kebanyakan lebih banyak yang tunduk sama pasar. Jadi ngerjainnya project project kayak tvc, korporat. Gitu gitu lah.

Tya (tiba-tiba dia ikut nanya loh) : Eh kenapa sih dulu loe pernah nge twit “jangan heran kalo motion graphic artists pada cabut dari Indonesia”? Itu maksudnya apa?
RSSM: Yah sebetulnya karena project project yang ada di Indonesia sendiri. Profesi ini gak dipandang sebagai artists di Indonesia. Jadi banyaknya project yang by request. Misalnya kayak tvc yang di mana kita nggak dikasih kesempatan untuk explorasi. Jadi kebanyakan dipandang sebagai orang teknis aja. Jadi kalo loe emang mau ngembangin diri loe sebagai artist, loe mendingan lari ke luar aja sekalian. Misalnya loe bisa membebaskan diri loe untuk berkarya, gue rasa kesempatan itu adanya di video clip. Dan video clip pun budgetnya nggak terlalu besar juga untuk bisa memungkinkan loe menghasilkan karya yang cukup panjang waktunya. Tiga sampai lima menit itu termasuk lama untuk satu video yang full motion graphic. Dan nggak cukup banyak orang yang berani untuk rajin di field itu. Gitu lah, ngerti nggak?
MeMeMe : Yah, dingertingerti-in lah Sak. Tapi kamu rasa bisa hidup kan dari kerjaan ini?
RSSM : Bisa lah. Yahh… bisa lah. 

Tya : Kamu ada director yang pengen kamu ajak kolaborasi?
RSSM : Sim F lah kayanya. Gue suka pendekatannya, cara berceritanya.

MeMeMe: Eh kamu rasa 10 tahun lagi kamu bakal seperti apa? Goal kamu apa gitu misalnya. Pengen anak dua misalnya, tinggal di London. Apa kek.
RSSM : Gue sih pengennya seneng aja. Biar gimana pun caranya, tinggal di mana. Yah, yang paling penting nyaman aja.

MeMeMe: Eh, Sak, Kamu koq gak jadian aja sih sama Vina? (Vina aka Savina aka Clanirella aka the vocalist of Fever To Tell).
RSSM : Lah? Kenapa Vina? 
MeMeMe: Soalnya cocok! Jadi, jawab aja deh Sak, kenapa nggak?
RSSM: Koq bisa Vina sih? Dia itu temen gue aja. Aneh banget deh loe.

MeMeMe : Eh, kamu koq jomblo sih Sak?
RSSM: Yah Jomblo aja sih.

MeMeMe : Ya ituu, KENAPA?? Sampe ada loh di twitter #saktimencarijodoh.
RSSM : Hahahaha, yah itu anak-anak aja, gemes kali ya mereka.
Me+Tya : GEMEEEETTSSSS….. (sambil tangan diangkat dan dibentuk kayak mau nyubit pipi orang) -you’re not gaul if you don’t know this move-
RSSM : Yah mereka gemes aja gue gak ada nyari-nyari pacar. Kalo menurut gue ya, kan proses pencarian orang itu beda beda ya. Ada orang nyari yang terbaik itu dengan cara gonta ganti sampai ketemu yang pas. Kalau gue males, mending waktunya gue pake buat kerja. Maksudnya, effort yang loe keluarin untuk loe pacaran, untuk ini itu, yah mending buat yang laen lah.

MeMeMe: Yah, gini kan ya Sak. I have all the issues there is. Relationship issue, commitment issue, intimacy issue, I have those. But even so I have to admit kalo pacaran itu gak selalu hard work. Gak selalu harus struggling. Eh iya gak sih? Koq aku jadi curhat?
RSSM : Lah, iya itu loe tau. Koq jadi curhat?
MeMeMe : Ah, gak tau lah Sak. Aku gak mau kawin lah sak. Aku takut kali mikirin perkawinan.
RSSM : Loh? Kenapa? Loe trauma apa gimana nih?

What do you expect to come after those kind of sentences? A great nice conversation about life? About relationship? Hell no. What follows were actually stupid conversation that mostly consist of us laughing our asses off about stuff that come to think about it again, not so funny.  About monogamy, open marriage, dark past, stupid decisions. Dan we ask him if he wants us to ngejodohin dia with someone or not. Someone that is not Vina. And apparently, we also talked about Orgy party. You can now, in unison, say “HUH?”

MeMeMe: Eh Sak, sebenernya kamu nyari cewek yang gimana?
RSSM : Emm.. Yang pas aja. (Apanya sak, yang pas? *winkwink nudgenudge) 
MeMeMe : Maksudnyaahh??
RSSM : Yah, yang pas aja. Yah, yang pada saat loe tau, loe tau.

In unison, now say “Sseeeehhhh…..” 
Good. You guys are awesome

Okay folks, that’s a wrap!
Ey, wait! I forget to tell you how come we call him RSSM. So, after the interview, he had another meeting with someone. It was for something that can not be unfold yet, but anyway, we asked him “Okay, so why did this guy choose you?” And he said, in a husky voice and in a reluctant way “Dia bilang sih mereka nyari yang rising star.” Thus he became Rising Star Sakti Marendra. 

Oh, and I just found out a couple of weeks ago, how wise he is when he’s drunk. In his drunken moment, and in my jiberjaber moment, I asked him “Why Sak?? Why??” And he simply said, “Kenapa harus ada kenapa?” And it was an epiphany for me. No, seriously, it really was. I am not being sarcastic. You guys…., I’m not! Honest!



Sakti’s List:

Band to listen to : Stars and Rabbit (Jogja)
And that’s it. He doesn’t have a long list. But he does have long ... limbs.

No comments:

Post a Comment